
"Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar." (Yoh 5:31-32)
Menjadi saksi itu gampang-gampang susah. Saksi harus memberikan fakta tentang apa yang ia lihat dan ia lakukan mengenai sesuatu insiden.Kalau kita lebih banyak bicara tentang diri sendiri dibandingkan tentang orang lain, kita bisa terperangkap dengan narsisme - kepuasan akan cinta diri berlebihan, bahkan tidak bisa melihat kekurangan diri sendiri.
Maka gak heran kita punya mulut satu dan dua telinga. Lebih baik telinga digunakan lebih sering untuk mendengarkan keberhasilan orang lain dan sesedikit mungkin membicarakan kebaikan diri sendiri. Semakin sering kita bicara ‘keluarga saya.., pekerjaan saya.., kalau saya.., saudara saya.. dst”, waspadalah kalau sudah menjurus tanda-tanda narsis karena kita ingin sebanyak mungkin orang kagum akan kita.
Mari mulai melatih diri untuk tidak bercerita tentang ’saya’ kalau tidak ditanya, mari lebih sering membicarakan kebaikan orang lain agar mereka memiliki citra yang baik… seburuk apapun kenyataannya. Penjahat sekalipun bisa kita harapkan menjadi baik walaupun mungkin membutuhkan waktu lama, karena dia juga dicintai Tuhan. Tuhan melihat yang baik, yang begitu berharga dari setiap ciptaanNya.
Maka supaya kita tidak terperangkap jerat narsis, marilah kita belajar untuk menjadi saksi kebaikan orang lain, juga menjadi saksi akan cinta Kristus. Lebih baik bercerita tentang Kristus yang berkarya dalam kehidupan kita daripada ngerumpi kejelekan orang lain dan mengeluh akan segala hal disekitar kita.
Setelah dirimu dislamatkan, jadilah saksi Kristus !
Cahaya hatimu jadi terang.Jadilah Saksi Kristus!
Tujuan hidupmu jadi nyata - Jadilah saksi Kristus !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar